FEMALE TOUCH
Tak Berkategori 6 Comments »Dari catatan harian tgl 24 September 2004 di Ciawi
Aku percaya lagu itu bahasa universal. Jujur, ungkapan ini muncul karena baru aja nonton konsernya Glenn Fredly. Permainan nada dan rangkaian lirik dalam lagu-lagunya sanggup menyihir semua penonton saat itu sehingga larut dalam suasana gembira. Semua pengunjung sama-sama tersenyum dan ikut bernyanyi bersama melantunkan lirik-lirik bernuansa cinta. Ada pula beberapa orang yang begitu khidmat sambil memejamkan matanya menikmati lagu tersebut, tak bergeming walau suasana saat itu begitu ramai disertai riuh tepuk tangan. Dengan demikian, aku harus mengakui kekuatan lagu, tidak hanya sekedar untuk hiburan tapi lebih dari itu. Seorang instruktur “Seven Habith” pernah bilang bahwa ia sangat menyukai lagu-lagu india, ia selalu menyetel kasetnya sewaktu berkendaraan. Nuansa musik perkusi india yang berirama mars itu berhasil menyemangati setiap hari-hari aktifitasnya. Bagi sebagian yang lain, lagu ternyata cukup ampuh untuk merekam memori setiap orang sesuai masanya. Ketika sebuah lagu dilantunkan, tiba-tiba ingatan kita juga seakan dihidupkan kembali dan tidak jarang bisa membuat kita tersenyum bahkan meneteskan air mata. Bahasa lagu adalah bahasa hati. Bahasa hati adalah bahasa yang diproduksi oleh sisi feminititas kita.
Hei, jangan malu jika dikatakan kita itu melankolis. Sekarang justru lagi butuh-butuhnya female touch, yang secara kualitatif artinya pemberian rasa sejuk, damai dan penuh rasa kasih. Aku pernah baca sebuah buku yang berjudul Taoisme of Islam karya seorang ahli Jepang, namanya Prof Sachiko Murata. Ada kesamaan konsep “Yin-Yang” dalam taoisme dengan konsep islam yang mengajarkan keseimbangan antara kekuatan (jalal) dan kelembutan (jamal). Dalam asmaul husna, nama-nama Allah sering disebut sebagai Al Malik(Maha Penguasa), Al Kabir (Maha Besar) dan disatu sisi juga disebut Ar Rahman (Maha Pengasih), Ar Rahim (Maha Penyayang). Yin (Api) sama dengan makna simbolik Malik ataupun Akbar sebagai representasi dari Maskulinitas, sedangkan Yang (Air) sama dengan makna simbolik dari Rahman, Rahim sebagai representasi dari Femininitas. Lebih lanjut disebutkan bahwa tahap kesempurnaan bagi seorang muslim adalah ketika menjadi Insan Kamil (Manusia yang sempurna), yaitu orang yang memiliki kedua sifat tersebut (Maskulin dan Feminin).
Sebagai autokritik atas saking dahsyatnya gerakan feminisme saat ini yang disebutnya sebagai upaya persamaan hak perempuan dengan laki-laki, menyebabkan banyak pe
rempuan yang akhirnya menjadi “man clone”, begitu buku tersebut ikut mengulasnya. Banyak para istri yang akhirnya mengadopsi sikap-sikap suami yang dikritiknya, yaitu sikap maskulian yang erat dengan kekuasaan, eksploitasi dan kompetisi. Empati, intuisi, sensitifitas harus terlindas di bawah logika dan ego. Untuk menggapai tuntutan jaman yang serba instant dan praktis, para istri terpaksa menanggalkan sikap kepedulian terhadap cinta, pengasuhan dan toleransi. Ditandai dengan pengabaian hal-hal kecil oleh para istri yang sebetulnya memiliki dampak besar. Apakah para istri paham bahwa kecupan mereka saat mengantarkan suaminya berangkat pagi hari adalah sangat berarti dan efektif memberi energi tambahan sang suami untuk menjalani aktifitasnya, tidak cukup hanya dengan telah tersedianya pakaian ataupun hidangan sarapan. Secangkir teh hangat yang diantarkan langsung oleh tangan istri ketika pulang kantor sambil menyediakan ruang dialog penuh kasih sanggup mengencerkan tegangan urat syaraf suami yang seharian telah dipompanya. Dan apakah disadari bahwa nada bicara yang lembut dan obrolan yang tidak straight to the point seringkali menjadi cara paling ampuh untuk menegosiasikan sesuatu dengan suami, dibanding permintaan yang dikemukakan tanpa pengantar dan ujung-ujungnya bernada bicara sama-sama tinggi. Jangan sampai dunia ini timpang karena kehilangan sentuhan-sentuhan penuh kasih tersebut.
Female touch bisa jadi sudah tercerabut dari akarnya. Malah di jaman yang katanya era emansipasi ini, mungkin female touch lagi mengalami krisis di planet venus, tersalip atau bahkan terrenggut oleh orang-orang Mars yang telah mendedikasikan dirinya, sebut saja Glenn Fredly dan Gede Prama. Keduanya sama-sama mengagungkan cinta dalam memproduksi karya-karyanya. Gede Prama yang telah sukses menjadi seorang CEO perusahaan raksasa, bahkan berani keluar dari kemapanannya untuk terjun lebih sebagai motivator ulung yang menyebarkan ketenangan batin dan berhasil menuangkan ilmunya dalam buku-buku yang cukup populer. Hermawan Kertajaya, sang guru marketing, pun telah sangat aware akan hal ini dan mencoba mengambil peluang akan kebutuhan female touch dalam praktek bisnis dengan menuangkannya dalam buku “Marketing in Venus”. Mungkin Gede Prama & Hermawan Kertajaya termasuk kategori pria “Metroseksual”, bukan dalam arti pria yang begitu peduli akan penampilan fisiknya namun lebih kepada pria yang memiliki keseimbangan antara sifat perkasa, cerdas, sukses dalam karir dan sifat lembut yang selalu menggunakan “feel” dalam bercengkrama di kehidupannya.
Bogor, Januari 2009.
Bogor
