FEMALE TOUCH

Tak Berkategori 6 Comments »

Dari catatan harian tgl 24 September 2004 di Ciawi

Aku percaya lagu itu bahasa universal. Jujur, ungkapan ini muncul karena baru aja nonton konsernya Glenn Fredly. Permainan nada dan rangkaian lirik dalam lagu-lagunya sanggup menyihir semua penonton saat itu sehingga larut dalam suasana gembira. Semua pengunjung sama-sama tersenyum dan ikut bernyanyi bersama melantunkan lirik-lirik bernuansa cinta. Ada pula beberapa orang yang begitu khidmat sambil memejamkan matanya menikmati lagu tersebut, tak bergeming walau suasana saat itu begitu ramai disertai riuh tepuk tangan. Dengan demikian, aku harus mengakui kekuatan lagu, tidak hanya sekedar untuk hiburan tapi lebih dari itu. Seorang instruktur “Seven Habith” pernah bilang bahwa ia sangat menyukai lagu-lagu india, ia selalu menyetel kasetnya sewaktu berkendaraan. Nuansa musik perkusi india yang berirama mars itu berhasil menyemangati setiap hari-hari aktifitasnya. Bagi sebagian yang lain, lagu ternyata cukup ampuh untuk merekam memori setiap orang sesuai masanya. Ketika sebuah lagu dilantunkan, tiba-tiba ingatan kita juga seakan dihidupkan kembali dan tidak jarang bisa membuat kita tersenyum bahkan meneteskan air mata. Bahasa lagu adalah bahasa hati. Bahasa hati adalah bahasa yang diproduksi oleh sisi feminititas kita.

Hei, jangan malu jika dikatakan kita itu melankolis. Sekarang justru lagi butuh-butuhnya female touch, yang secara kualitatif artinya pemberian rasa sejuk, damai dan penuh rasa kasih. Aku pernah baca sebuah buku yang berjudul Taoisme of Islam karya seorang ahli Jepang, namanya Prof Sachiko Murata. Ada kesamaan konsep “Yin-Yang” dalam taoisme dengan konsep islam yang mengajarkan keseimbangan antara kekuatan (jalal) dan kelembutan (jamal). Dalam asmaul husna, nama-nama Allah sering disebut sebagai Al Malik(Maha Penguasa), Al Kabir (Maha Besar) dan disatu sisi juga disebut Ar Rahman (Maha Pengasih), Ar Rahim (Maha Penyayang). Yin (Api) sama dengan makna simbolik Malik ataupun Akbar sebagai representasi dari Maskulinitas, sedangkan Yang (Air) sama dengan makna simbolik dari Rahman, Rahim sebagai representasi dari Femininitas. Lebih lanjut disebutkan bahwa tahap kesempurnaan bagi seorang muslim adalah ketika menjadi Insan Kamil (Manusia yang sempurna), yaitu orang yang memiliki kedua sifat tersebut (Maskulin dan Feminin).

Sebagai autokritik atas saking dahsyatnya gerakan feminisme saat ini yang disebutnya sebagai upaya persamaan hak perempuan dengan laki-laki, menyebabkan banyak pefemale-touchrempuan yang akhirnya menjadi “man clone”, begitu buku tersebut ikut mengulasnya. Banyak para istri yang akhirnya mengadopsi sikap-sikap suami yang dikritiknya, yaitu sikap maskulian yang erat dengan kekuasaan, eksploitasi dan kompetisi. Empati, intuisi, sensitifitas harus terlindas di bawah logika dan ego. Untuk menggapai tuntutan jaman yang serba instant dan praktis, para istri terpaksa menanggalkan sikap kepedulian terhadap cinta, pengasuhan dan toleransi. Ditandai dengan pengabaian hal-hal kecil oleh para istri yang sebetulnya memiliki dampak besar. Apakah para istri paham bahwa kecupan mereka saat mengantarkan suaminya berangkat pagi hari adalah sangat berarti dan efektif memberi energi tambahan sang suami untuk menjalani aktifitasnya, tidak cukup hanya dengan telah tersedianya pakaian ataupun hidangan sarapan. Secangkir teh hangat yang diantarkan langsung oleh tangan istri ketika pulang kantor sambil menyediakan ruang dialog penuh kasih sanggup mengencerkan tegangan urat syaraf suami yang seharian telah dipompanya. Dan apakah disadari bahwa nada bicara yang lembut dan obrolan yang tidak straight to the point seringkali menjadi cara paling ampuh untuk menegosiasikan sesuatu dengan suami, dibanding permintaan yang dikemukakan tanpa pengantar dan ujung-ujungnya bernada bicara sama-sama tinggi. Jangan sampai dunia ini timpang karena kehilangan sentuhan-sentuhan penuh kasih tersebut.

Female touch bisa jadi sudah tercerabut dari akarnya. Malah di jaman yang katanya era emansipasi ini, mungkin female touch lagi mengalami krisis di planet venus, tersalip atau bahkan terrenggut oleh orang-orang Mars yang telah mendedikasikan dirinya, sebut saja Glenn Fredly dan Gede Prama. Keduanya sama-sama mengagungkan cinta dalam memproduksi karya-karyanya. Gede Prama yang telah sukses menjadi seorang CEO perusahaan raksasa, bahkan berani keluar dari kemapanannya untuk terjun lebih sebagai motivator ulung yang menyebarkan ketenangan batin dan berhasil menuangkan ilmunya dalam buku-buku yang cukup populer. Hermawan Kertajaya, sang guru marketing, pun telah sangat aware akan hal ini dan mencoba mengambil peluang akan kebutuhan female touch dalam praktek bisnis dengan menuangkannya dalam buku “Marketing in Venus”. Mungkin Gede Prama & Hermawan Kertajaya termasuk kategori pria “Metroseksual”, bukan dalam arti pria yang begitu peduli akan penampilan fisiknya namun lebih kepada pria yang memiliki keseimbangan antara sifat perkasa, cerdas, sukses dalam karir dan sifat lembut yang selalu menggunakan “feel” dalam bercengkrama di kehidupannya.


TETAP BERSEMANGAT, TEH!

Tak Berkategori 2 Comments »

DoaBogor, Januari 2009.

Ya ALLAH,

Satu lagi momen yang kembali kami mengingatMU,

Momen yang membuat kami sadar akan kebesaranMU,

Momen yang menyadarkan akan kerendahan diri kami,

yang kembali mengingatMU ketika kegetiran dan duka menghinggapi kami.

Ya ALLAH,

Kami ridho, ikhlas atas skenario hidup yang harus kami lalui,

Atas apapun cobaan yang kami hadapi, kuatkanlah kami utk selalu menjadi hamba yang ahli syukur dan ahli ibadah,

Kami imani bahwa ENGKAU tidak akan memberikan beban kepada hamba yang tidak memiliki kapasitas untuk dapat memikulnya,

Ya ALLAH,

Selamatkanlah Istri, Ibu, Anak dan Kakak kami ini,

Berilah dia kesempatan untuk merancang kembali dunia kecilnya,

Menikmati kebahagiaan atas segala anugerah yang Engkau berikan selama ini,

Berikanlah ridhaMU agar dia dapat menjalani kesembuhan dengan tidak merasa kesakitan,

Ya ALLAH,

Tidak ada kekuatan yang melebihi kekuatanMU,

Kami senantiasa kembali kepadaMU,

“Di, Teteh kena kecelakaan, cepeeet ke bandung…..” dengan nada suara yang panik, mama telepon ke HP-ku, tak lama kemudian sms masuk dari kakak iparku.”Di, Rita kecelakaan di rawat di Borromeus”. Kontan aku telp balik ke HP Mama, sambil berusaha mengatur nafasku, belum saja memulai pembicaraan suara Mama sudah dipenuhi isak tangis, tampaknya percuma upaya untuk menenangkan Mama via HP saat itu, hanya bisa bilang “Iya Adi sekarang ke Bandung”.

Kejadian itu berlangsung pada hari Minggu, 23 Maret 2008, di pagi hari di daerah Gasibu, Bandung. Pihak keluarga tidak ada yang tahu detail kejadiannya, tiba-tiba Teteh Rita dikabarkan kecelakaan dan saat itu sudah berada di ruang UGD, RS Borromeus. Menurut pihak kepolisian,ia kemungkinan kehilangan kesadaran terlebih dahulu, kemudian menabrak pembatas jalan. Saat itu, teteh sedang mengendarai sepeda motor sambil membonceng anaknya, Putri. Teteh dikabarkan jatuh, kepalanya terkena benturan keras, sedangkan Putri terkena luka ringan di tangan.

Dari jam 7-an pagi masuk UGD, baru sekitar jam 12-an ada keterangan dari dokter bahwa Teteh diharuskan utk dilakukan operasi atas gumpanan darah yang masuk ke otak di kepalanya. Kontan respon keluarga saat itu sangat haru, tidak ada firasat sedikitpun akan kejadian itu. Tangis keluarga dicampur rasa tegang menyelimuti suasana saat itu. Kami merasa detik tiap detik berjalan sangat lambat untuk menanti dokter keluar dari ruang operasi memberi kabar tentang perkembangan Teteh.. “Kondisinya cukup kritis, namun kami telah berhasil mengangkat gumpalan darah dalam otak”, begitu penjelasan dokter sekitar pukul 16-an. “Tingkat kesadarannya saat ini ada di tingkat 5, dalam skala 3 s.d. 15. Saya belum bisa memastikan kondisi pasca operasi ini, langkah pertama adalah upaya menyelamatkan jiwa pasien” jawaban lugas dokter ketika ada pertanyaan dari salah seorang keluarga mengenai kondisi Teteh “Setelah operasi, ibu Rita akan segera kami pindahkan ke ICU”, begitu penjelasan lanjutannya.

Hati kami begitu pedih, saat diperbolehkan untuk menemuinya, kain perban putih membungkus ¾ dari kepalanya, sementara tubuhnya diselimuti kain putih khas rumah sakit yang tampak masih enggan untuk bergerak. Isak tangis kami yang tertahan ditemani ritme teratur dari monitor yang memantau denyut jantung Teteh. Tampak pula begitu banyak selang yang tertanam di tubuhnya. Hanya doa dan dzikir yang bisa kami panjatkan berharap ada sedikit saja respon dari ujung jemari tangan atau kakinya sebagai tanda bahwa sekarang ia mengetahui kehadiran kami, keluarganya yang akan setia menemani. “Teteh, disini ada Mama. Jangan khawatir, Putri baik-baik saja. Yang sabar ya, sayaaang…..” begitu bisikan Mama di samping telinga teteh berusaha untuk menenangkan. Selama belum sadar, ia diharuskan dirawat secara intensif di ruang ICU. Teteh terkena cidera otak atau umum dikenal dengan istilah gegar otak karena benturan keras di kepala. Karena termasuk dalam kategori cidera berat, masa pemulihannya pun memakan waktu cukup lama.

Sempat pikiran lelahku menerawang, jika Tuhan memberikan kesempatan untuk kembali ke masa lalu, pastinya momen kecelakaan ini menjadi peringkat pertama yang aku pinta untuk bisa memperbaiki kondisi sehingga apa yang menimpa teteh ini tidak perlu terjadi. Namun, segera ku larat angan-anganku tersebut dengan untaian doa di pengantar tulisan ini, bahwa kami, ibu, suami, adik dan anak-anaknya ikhlas, ridha atas skenario kehidupan in. Kami percaya bahwa ikhlas dan ridha adalah obat mujarab untuk mengatasi rasa lelah dan hati yang gundah sekaligus memberi energi buat hamba-Nya untuk senantiasa tidak pernah putus asa. Dan akhirnya, kami kembali kepada Yang Maha Berkendak dan memohon kuasaNya untuk memberi yang terbaik.

Semua kerabat di Sukabumi - Bandung, rekan kerja di Univeritas Pendidikan Indonesia (UPI), teman kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan para mahasiswa/i mulai berdatangan setelah berita kecelakaan Rita tersebar. Semuanya menghaturkan rasa duka dan menyampaikan doa keselamatan buat Teteh.

Alhamdulillah, setelah delapan hari dirawat di ruang ICU, akhirnya ia dibolehkan untuk dipindahkan ke ruang rawat inap. Selama kurang lebih seminggu ia beranjak mengalami perkembangan dalam masa pemulihannya di rawat inap. Puji syukur atas kemurahanMU ya Allah, awalnya kaki dan tangan mulai bisa digerakkan, sepatah dua patah kata walaupun belum begitu jelas mulai diucapkan. Respon syaraf sebelah kiri, terutama kaki dan tangannya, relatif lebih lemah, karena benturan keras terjadi di otak sebelah kanan. Fungsi otak dalam mengkomandani syaraf dalam tubuh bekerja menyilang, otak kanan untuk mengatur syaraf sebelah kiri dan begitu sebaliknya untuk otak kiri yang mengatur syaraf tubuh sebelah kanan. Tak heran, ketika dirawat di ruang inap, dalam masa pemulihannya kadang-kadang Teteh sering menghubungkan segala sesuatunya dengan persamaan matematika. Kakak iparku bilang, kata dokter sekarang sedang masa koordinasi fungsi otak. Otak kiri cenderung ke logika sedangkan otak kanan cenderung ke emosional.

Lagi-lagi doa kami dikabulkanNya. Tanggal 10 April 2008, karena perkembangan dinilai cukup bagus, Teteh dibolehkan pulang, untuk dilakukan terapi pemulihan di rumah. Awal kontrol medis dua minggu setelah pulang ke rumah, dokter bilang, “Ini miracle, saya tidak menduga pemulihannya begitu cepat, tidak ada ingatan yang hilang dan Ibu Rita sudah bicara cukup aktif”. Iya, Alhamdulillah Teteh bisa mengenali semua orang yang mengunjunginya, bicaranya sudah interaktif dan sudah bisa bangkit dari tidurnya, “Saya siap memberikan rekomendasi jika ibu Rita akan melanjutkan karir sekolahnya” begitu dokter melanjutkan keterangannya. Hal ini juga didukung oleh semangat baja Teteh untuk segera pulih, motivasi yang kuat untuk kembali meniti karirnya di dunia pendidikan, menyelesaikan program doktoralnya, untuk kembali meraih impian untuk bisa berkunjung ke universitas di luar negeri serta menjadi ibu, istri dan wanita yang sukses bagi anak-anak, suami dan kampusnya tercinta.

Teh, ingat kesempatan ini berkat persembahan doa yang dihaturkan oleh seluruh keluarga, kerabat dan sahabat sehingga memperoleh ridha-Nya. Dzikir dan doa yang tidak pernah berhenti dilafalkan oleh Mama. Pengorbanan ikhlas Mama dalam mendampingi Teteh selama di rawat, tanpa keluh kesah, walaupun berminggu-minggu harus tidur beralaskan tikar di depan ruang ICU. Kesetiaan Mama untuk mengabdi pada anaknya sehingga tidak satu haripun ditinggalkannya dalam menemani Teteh selama masa perawatan di Rumah Sakit ataupun pemulihan di rumah. Senyum dan tangis yang disembunyikannya dalam memotivasi kembali Teteh untuk menerima serta menjalani skenario kehidupan ini. Begitula dengan Si Aa, sang suami tercinta, bagaimana ketabahannya semenjak awal menerima kabar duka ini, kegundahan di hatinya tidak sedikit pun mengurangi kesigapannya dalam menghadapi semua proses ini. Ketegarannya untuk pantang menampakkan wajah bersedih khususnya ketika berhadapan dengan istri dan anak-anak tercintanya.

Di tengah masa terapi pemulihan yang harus dilaluinya, Teteh tampaknya jadi lebih memaknai arti keselamatan dan banyak mengumbar doa keselamatan buat siapapun yang mengunjunginya. Setelah sekian waktu istirahat, ia mulai menjalani aktifitas sehari-hari, mengajar maupun menyelesaikan kuliah program doctoral-nya. Butuh usaha yang ekstra untuk memulihkan kepercayaan tidak hanya terhadap dirinya sendiri tetapi juga ke lingkungan sekitarnya bahwa ia akan mampu kembali seperti sedia kala. Tepat enam bulan setelah kecelakaan, di bulan september 2008, dia telah berhasil menggapai impiannya untuk pergi ke luar negeri. Ia mendapat kesempatan untuk melanjutkan penelitiannya sebagai bagian dari program doctoral-nya di universitat Stuttgart, Jerman. Walaupun hanya tiga bulan, tetapi momen itu berhasil mengembalikan kepercayaan dirinya. Pastinya masih banyak mimpi-mimpi yang lain untuk diraih, jangan pernah menyerah, teteh baru aja sukses melewati salahsatu ujian berat dalam hidup. Tetap bersemangat, Teh!. Just keep on smiling, because the future is yours.

BERAKHIR PEKAN KE MESJID KUBAH EMAS

Tak Berkategori 5 Comments »

Awalnya cuma penasaran dengan Mesjid berkubah emas di depok, ternyata memang bangunan megah di lahan puluhan hektar itu menjadi tempat tujuan wisata yang dipadati banyak pengunjung. Bukan hanya kendaraan pribadi, nampak bus-bus wisata yang sengaja disewa dari luar kota memenuhi pelataran parkir. Selain mesjid, ada 2 bangunan megah lainnya; yaitu gedung serbaguna yang juga berbentuk menyerupai mesjid sebagai tempat pengunjung utk sekedar beristirahat dan di sebelahnya adalah rumah sangat megah, yang orang bilang adalah tempat tinggal si empunya mesjid kubah emas. Beberapa pengunjung khususnya yang rombongan tampak pakai pakaian seragam warna putih-putih, menyemarakan suasana seperti di tanah suci. “Ya lumayan, pra kondisi sebelum Naik Haji beneran” komentar ibuku.

Menjelang dzuhur, aku memasuki ruang mesjid yang kental nuanmesjid kubah emassa persia berbalut warna emas baik dari dekorasi lantai hingga ke langit-langit. Begitu di dalam mesjid, terdengar sayup-sayup suara puji-pujian yang dilantunkan oleh sekelompok kecil orang di dekat mimbar. Terlihat juga para pengunjung lain yang juga mulai berdatangan masuk ke ruang mesjid. Aku melanjutkan dengan sholat tahiyatul mesjid, seusai sholat suara sayup-sayup itu berubah jadi gemuruh yang menggetarkan batin. “Astagfirllah Rabbal Baroya, Astagfirllah Minal Khatoyaa” begitu bagian dari puji-pujiannya. Bukan hanya karena kalimat-kalimat istigfar yang agung itu yang menyebabkan batin bergetar, tapi ketika inisiatif bersama setiap pengunjung yang tergerak utk bergabung dengan kelompok kecil dan akhirnya menjadi forum besar yang secara berjamaah ikut melafalkannya. Ditambah lagi, sang imam yang kemudian memimpin doa di tengah gemuruh kalimat-kalimat istigfar menjadi kombinasi mantap yang melengkapi rangkaian doa khidmat saat itu.

Akhirnya, aku mendapat pengalaman spiritual atas kunjungan akhir pekan itu, yang jauh lebih berharga dari niat awal sekedar mengagumi sebuah mesjid megah. Kawan-kawan, it is recommended sebagai agenda berakhir pekan bareng keluarga. Jangan lupa untuk menyempatkan menikmati sholat berjamaah di salahsatu waktu sholat serta mengikuti ritual aktifitas sebelumnya. Selamat mencoba.

SURAT UNTUK FATIA

Tak Berkategori 2 Comments »

fatiaBogor, 29 September 2006

“Alhamdulillah, puji syukur atas kemurahan-MU memberikan nikmat kepada kami untuk mengandung keturunan.

Astagfirllah, ya ALLAH perkenan ridha-MU, maafkanlah kesalahan-kesalahan yang menghalangi pinta pendusta ini,

Ya ALLAH, tidak ada kekuatan yang melebihi kekuatanMU, sempurnakanlah anugerahMU, selamatkanlah keturunan kami dan percayakanlah kami untuk mengemban amanahMU. Amien.”

Fatia Sayang,

Rangkaian doa di atas disusun ketika pikiran Ayah sedang galau, merasa tidak ada lagi yang bisa diperbuat, dan akhirnya hanya bisa memohon kepada ALLAH. Waktu itu, tgl 19 September 2006 di sore hari, Bunda sedang ada di ruang bersalin, selang infus masih tertanam di tangan kirinya, menanti kehadiran kamu, sedangkan Ayah sibuk keluar-masuk ruang bersalin dengan perasaan yang sulit untuk diungkapkan. Saat itu umur kandungan kamu 38 minggu, tensi Bunda 130/90 yang kata dokter termasuk hipertensi ringan. Karena tensi ini sudah 2 minggu berturut-turut dan saat itu berat kamu dianggap masih kurang, maka Bunda diharuskan untuk melahirkan dipercepat walaupun Bunda belum merasa ada kontraksi. Begitu terapi dari dokter yang Ayah & Bunda sepakat untuk menjalaninya.

Sebetulnya Bunda sudah masuk Rumah Sakit sejak tgl 18 September 2006, sudah dipasang balon kateter untuk merangsang pembukaan secara fisik dan semalaman Bunda sudah merasakan sakit - mules, tapi sampai besok paginya hanya ada pembukaan satu. Terpaksa pada tgl 19 September 2006, Bunda musti menjalani induksi via infus, yang banyak orang bilang rasanya sangat sakit, karena infus ini memacu-paksa pembukaan menuju persalinan. Saat itu sudah ada pro-kontra, banyak kerabat yang memberi input tidak menyetujui saran dokter itu. Secara nalar, tensi Bunda sudah membaik, usia kehamilan baru 38 minggu tetapi mengapa terapi induksi tetap dilakukan. Ayah dan Bunda khawatir, terapi ini akan berdampak negatif buat kamu. Setelah mendapat penjelasan dari dokter bahwa terapi ini aman, maka induksi tetap dilakukan. Satu botol infus sudah dijalani, Bunda tidak merasa ada reaksi, hingga botol kedua dengan dosis yang lebih tinggi dijalani lagi, namun tetap tidak ada reaksi. Di sore hari menjelang botol infus kedua habis itulah doa itu dipanjatkan, berbarengan dengan tetesan air mata Bunda yang begitu khawatir serta penuh pengharapan agar proses persalinan kamu lancar.

Fatia Sayang,

Induksi Bunda dinyatakan gagal, sampai dengan sore itu, pembukaan baru sampai dua. Menurut skenario dokter, induksi harus tetap dilakukan keesokan harinya dan berbuntut cesar jika tetap tidak ada pembukaan, namun Bunda menolak, tensi sudah membaik dan punya keyakinan bahwa bayi kesayangannya memang belum ingin dilahirkan. Dokterpun menyetujui usulan Bunda tapi dengan syarat, harus mengawasi setiap pergerakan bayi di dalam kandungan dan rawat jalan setiap 3 hari. Hari-hari penantianpun dijalani, usia kandungan Bunda sudah memasuki 39 minggu tapi belum ada tanda-tanda kamu ingin keluar. Di tengah kebimbangannya, Bunda rajin jalan-jalan setiap pagi, sering memaksakan diri ngepel di rumah walau dengan perut besar, yang konon bisa membantu kelancaran proses persalinan secara alami.

Bulan ramadhan pun tiba, di bulan penuh berkah ini Ayah dan Bunda pun lebih getol memanjatkan doa, karena pada hakikatnya hanya karena izin-NYA lah kamu itu lahir, tidak ada kekuatan yang melebihi kekuatanNYA. Memasuki usia kandungan 40 minggu, hari Kamis, 28 September 2006 dan kebetulan di hari itu Bunda memang harus kontrol ke Rumah Sakit (RS), sepulang dari RS tsb perasaan Bunda mulai aneh, di sore harinya mulai pertanda mules, makin malam rasa mulasnya kian bertambah, namun Bunda belum memutuskan untuk bergegas ke RS. Baru keesokan harinya, 29 September 2006, pukul 10-an, diputuskan untuk ke RS, setelah diperiksa di ruang bersalin belum ada pembukaan tambahan, masih pembukaan dua, sama seperti dua minggu lalu pas terakhir kali kunjungan. Para perawat memperkirakan masih lama, apalagi dengan record gagal induksi, dokterpun berpikiran sama dan menyarankan untuk menunggu saja di ruangan kelas.

Kami menuruti anjuran dokter, Bunda dan semua orang yang ikut menunggu berpindah ke ruangan kelas. Bunda merintih kesakitan, orang-orang yang menunggu memaklumi keluhan ibumu. Namun kok Bunda merintih sepertinya begitu hebat dengan frekuensi yang mulai kerap, kami yang menunggu segera meminta diperiksa. Perawatpun menghampiri tapi lagi-lagi meyakinkan bahwa belum ada pembukaan tambahan dan diperkirakan masih lama. Setiap terasa kontraksi, Bunda meneteskan air mata, menahan rasa sakit. Sempat terlihat ekspresi menyerah, namun Bunda tidak larut didalamnya, ia merintih sambil melafalkan kalimat-kalimat Dzikir. Pkl 14.30, Bunda merasa ada flek darah dan akhirnya segera dibawa ke ruang bersalin. Hasil pengecekan para perawat dinyatakan sudah pembukaan delapan. Semua orang kaget, dari pembukaan dua langsung ke delapan. “Alhamdulillah, ya ALLAH, terima kasih atas bantuanMU” segera Bunda mensyukuri. “Ayo ibu, tinggal 2 pembukaan lagi” seorang perawat menyemangati, tak lama, entah ada energi apa yang membantu, disusul dengan pembukaan 9 dan 10. Ayah ikut mendampingi di sebelah kanan Bunda dan menyaksikan dokter membantu melahirkan kamu pada pkl 15.57 dengan berat badan 3,45 Kg dan tinggi 50 cm. Adzan pun segera Ayah suarakan, sebagai bukti tanda syukur dan kami siap menerima amanahNYA.

Nama adalah doa, kamu diberi nama Fatia Naurel Yoestiadi. Kata Fatia artinya awal atau pembuka, kata Naurel dari Naura artinya cantik atau bagus, keduanya berasal dari bahasa arab. Yoestiadi adalah nama akhir dari Ayah, jadi secara lengkap berarti “Awal yang cantik bagi dan dari keluarga Yoestiadi”, lahir di hari yang terbagus (Jumat) dan di bulan yang terbaik (Ramadhan). Sengaja momen ini Ayah abadikan, untuk mengingatkanmu bahwa betapa besar pengorbanan Bunda melahirkanmu dan betapa kami menginginkan kehadiranmu. Fatia, Ayah & Bunda love you !.

NOT FREE ROAD, BUT FAIR ROAD

Tak Berkategori 1 Comment »

Bogor, 24 September 2006

Aku seorang pegawai yang bekerja di daerah Kuningan, Jakarta dan tinggal di pinggiran kota, sebut saja Bogor. Selagi termenung di bus di tengah antrean kemacetan di gerbang tol Taman Mini menuju ke UKI, aku memandang ke samping sebelah kiri, terlihat mobil-mobil pribadi yang ikut tersendat di tengah kemacetan. Terbersit di pikiranku untuk menghitung jumlah penumpang di masing-masing kendaraan. Umumnya di mobil-mobil pribadi itu hanya satu orang, beberapa ada yang 2 orang, ada yang duduk sama-sama di depan, adapula satu di depan dan satu di belakang. Sementara aku di dalam bus bersama penumpang lain, memuat 58 orang. Belum lagi, ketika setelah sampai UKI dan melanjutkan menaiki Bus Kota ke daerah Kuningan, penumpangnya bisa mencapai 70-80 orang. macet

Nah, jika kita mau berhitung siapa yang berkontribusi terhadap kemacetan di Jakarta ini, sepertinya aku dan teman-teman penumpang bus adalah orang yang berkontribusi paling rendah. Bisa dibayangkan, asumsikan saja luas dari Bus adalah 33 m2 (11 x 3 m), berarti kontribusi tiap penumpang dalam memadati space jalan adalah 0,57 m2. Sedangkan para penumpang mobil pribadi, asumsikan saja luas dari mobil pribadi adalah 10 m2 (5 x 2 m), maka kontribusi penumpang satu orang adalah 10 m2 dan jika penumpangnya dua orang adalah berkontribusi sebanyak 5 m2 memadati space jalan. Jika ratio antara bus dan mobil pribadi itu 1 : 10, tidaknya heran kemudian mengapa kita selama ini harus menghabiskan sekian banyak waktu hidup kita di perjalanan menuju dan dari Jakarta.

Barangkali ini yang sering para pemerhati perkotaan sebut pentingnya sustainable transportation. Dari hasil hitungan-hitungan di muka, aku memahaminya dimana suatu kota padat pemukiman dengan tingkat laju transportasi yang tinggi, perlu untuk memperlakukan Jalan bukan hanya sebagai jalan umum tetapi juga jalan yang adil (Not Free Road but Fair Road). Kendaraan umum harus menjadi prioritas dalam menikmati jalan, karena disana terdapat berpuluh-puluh kepala manusia yang notabene berkontribusi memakan space jalan lebih sedikit dibanding penumpang kendaraan pribadi. Dengan demikian, akhirnya terkondisi kendaraan umum menjadi pilihan populer bagi masyarakat pengguna transportasi, tentunya dengan kondisi kendaraan umum yang aman dan nyaman. Aku yakin dampaknya pun akan luar biasa, yaitu menghemat konsumsi energi, menurunkan tingkat polusi udara, perjalanan dan lingkungan kota pun menjadi lebih nyaman.

Walaupun sebulan belakangan ini aku yang biasanya pergi gelap, pulang gelap, sekarang harus pergi lebih gelap dan pulang lebih gelap gara-gara proses pembuatan infrastruktur Bus way, tapi biarlah hal tersebut menjadi bagian pengorbanan dari masyarakat yang menikmati rejeki kota Jakarta. Semoga jalur bus way ataupun program mono-rail cepat direalisasikan. Pokoknya, hidup kendaraan umum! Hidup penggunaan Jalan yang adil!

MELEK FINANSIAL

Tak Berkategori 1 Comment »

Jakarta, 20 November 2005

Sewaktu jalan-jalan ke toko buku di Sukabumi bareng teman main, kami sama-sama menghampiri meja kumpulan buku best seller. Memang biasanya, kumpulan buku best seller itu ditempatkan paling strategis, persis di depan setelah melewati pintu masuk toko. Aku mengambil satu buku karya Robert T Kiyosaki (RTK), dan tiba-tiba temanku berkomentar “Di, (buku) itu sih mestinya sudah khatam donk, sekarang yang musti dibaca buku ini…” sambil menunjukkan buku yang lain. Komentarnya cukup membuatku berfikir sejenak menyadari ketertinggalanku, padahal dia adalah adik tingkatku saat sekolah dulu. Sebenarnya sudah lama ada keinginan untuk memiliki buku itu tapi diurungkan niatnya karena anggapanku pasti tidaklah jauh seperti buku popular lainnya yang bergumul tentang pendekatan psikologis dalam memecahkan persoalan hidup. Walaupun sebenarnya agak terlambat, akhirnya kuputuskan untuk membelinya.

Ternyata cukup bermanfaat, selesai membaca buku itu, sedikitnya kita bisa “nyambung” dengan obrolan di berbagai forum bisnis yang umumnya sering menggunakan istilah dalam buku tersebut. Buku karya RTK sepertinya telah menjadi bacaan wajib bagi para entrepreneur dalam membangun bisnisnya. Buku itu memberikan inspirasi dan motivasi bagi pembacanya. Bukan hanya menceritakan tentang anggapan yang kurang tepat kebanyakan para ayah dalam mendidik anak-anaknya, tapi juga berhasil membuat gambaran jelas mengenai posisi finansial masing-masing orang dalam menjalani hidupnya.

Iya, kebanyakan ayah kita masih berpikiran konvensional dalam mendidik anak-anaknya. Kita dididik untuk dapat memperoleh pendidikan sekolah setinggi-tingginya yang ujung-ujungnya agar kelak dapat bekerja di instansi pemerintahan atau di suatu perusahaan swasta terkenal. Mereka jarang berpikiran untuk mendidik anaknya berani mengambil resiko, menginvestasikan sebagian uangnya dan menjadi pengusaha. Anak-anak jaman sekarang yang menjadi pengusaha hampir dapat dipastikan karena pilihan terakhir setelah upaya menjadi pegawai gagal atau keputusan pribadi ketikeuangan1ka kecewa menjadi pegawai. Alasan keamanan selalu menjadi prioritas dibandingkan kebebasan.

Padahal menurut RTK, pegawai (employee) disebutnya sebagai kelompok miskin, bukan hanya karena mereka tidak memiliki uang tetapi juga waktu. Gambaran itu persis yang aku alami sekarang, sewaktu aku sewa kamar atau kontrakan di daerah Jakarta, dalam menjalani hari-hari kerja, aku menjadi anggota tim 78 alias pergi dari rumah jam 7 pagi dan pulang jam 8 malam. Otomatis waktu 13 jam dalam sehari tersebut telah aku gadaikan demi pekerjaanku. Belum lagi jika sudah memiliki rumah permanen yang pastinya dipinggiran kota Jakarta, aku berubah menjadi anggota tim 69. Dalam hal kepemilikan uang, aku mulai terjerat untuk memenuhi setoran angsuran rumah dan angsuran konsumtif lainnya. Penghasilan pegawai alias gaji berbanding lurus dengan kewajiban membayar berbagai tagihan. Semakin besar penghasilan biasanya diikuti dengan semakin besarnya tagihan rumah, kartu kredit dan ongkos konsumtif lainnya. Kondisi finansial seperti itu yang kemudian sering disebut RTK sebagai “Rat Racing”.

Sebenarnya hanya mengharapkan gaji sebagai active income sangatlah tidak aman bagi kondisi finansial seorang pegawai. Kemungkinan besar kita hanya mengandalkan dana pensiun untuk masa tua nanti. Kita perlu mendapatkan cash flow dari usaha yang kita miliki dan terlebih mendapatkan capital gain / dividend dari investasi yang kita tanamkan. Itulah yang kemudian disebut passive income. Formula sederhana untuk mencapai Financial Freedom (FF) sebagaimana dikutip oleh banyak aktifis pemberi racun entrepreneurship adalah ketika kita mendapatkan Passive Income (PI) 3 kali lebih besar daripada Expense (E) dalam setiap bulannya.

Aku kira tugas RTK ataupun Tung Desem Waringin sudah cukup dalam hal membuat kita “ngeh” akan posisi finansial saat ini dan memotivasi kita untuk cepat banting stir memperbaiki kualitas finansial dengan berpindah ke kuadran kanan (Business Owner & Investor). Memahami posisi kita saat ini berada merupakan 50% dari perubahan yang kita inginkan. Setidaknya pekerjaan yang saat ini aku geluti, sedikit banyak berhubungan dengan banyak pengusaha. Motivasi dan target pekerjaanku pun menjadi semakin terarah, setidaknya aku harus lebih mahir memahami parameter finansial perusahaan yang acceptable sehingga perusahan dapat dikatakan berjalan dengan baik. Langkah menentukan usaha apa dan bagaimana menjalankannya itu adalah pelajaran lain. Alhamdulillah, mungkin inilah tahap “ngeh” alias melek finansial itu. AYO BERSEMANGAT !!.


WordPress Theme & Icons by N.Design Studio.
Entries RSS Comments RSS Log in